Demi Bisnis atau Demi Jodoh?

Bahas soal demi bisnis atau demi cinta mana yang penting?. jelas kedua-duanya penting. tapi kalau misalnya kita berada di posisi sama-sama merintis ” Bisnis ” dan memperjuangkan ” Cinta ” mana yang Anda prioritaskan?. tulisan ini Saya muat karena kebimbangan Saya akhir-akhir ini mengingat setahun yang lalu pernah gagal menjalin hubungan ” Pacaran ” gara-gara karena saya bukan pekerja kantoran dan berprofesi sebagai freelance (internet marketer).

Teman-teman pernah ngga mengalami hal serupa?, dimana yang menjadi masalah besar adalah restu orang tua si wanita. kita tahu lah pandangan orang tua soal calon menantunya. biasanya kalau lelaki yang mereka lihat kerja kantoran otomatis itu sudah cukup menjadi lampu hijau bagi si lelaki. sedangkan posisi Saya sekarang bukan disitu. bahkan soal bisnis pun masih bisa dibilang ” Merintis “. soal penghasilan memang sudah diatas pekerja kantoran, tapi yang namanya bisnis pasti ada naik-turunnya. itulah yang biasa menjadi pertimbangan orang tua si wanita. Saya bercerita hal ini juga karena punya pengalaman tidak enak, ya salah satu penyebabnya adalah gara-gara Saya bukan pekerja kantoran dan itu belum lama kira-kira setahun yang lalu.

demi cinta

Ellie Goulding

Mungkin ini juga mewakili sebagian kisah hidup teman-teman yang posisinya sama seperti Saya ” single & berjuang merintis bisnis “. ngga mudah memang menjalani hari demi hari tanpa kehadiran seorang wanita mengingat umur Saya saat ini sudah 27tahun dan sudah punya keingingan untuk menikah paling tidak sampai tahun depan!. kegagalan ditahun-tahun sebelumnya sebisa mungkin tak akan terulangi lagi. yah namanya manusia bisanya cuma berdoa & berusaha.. yang berhak menentukan hanya Allah SWT Tuhan semesta alam. bahas soal ini, Saya punya sedikit masalalu yang lumayan mengiris bawang hahaha 😀

Pernah Gagal Hampir Mau Nikah

Iya ” hampir mau ” nikah. dan belum sampai benar-benar menikah ya hehehe. 2009 adalah kesempatan pertama Saya untuk menikah dan saat itu umur Saya masih 20 tahun (dan belum punya rencana untuk menikah). cerita singkatnya adalah saya sering bertemu seorang supervisor dari sebuah perusahaan swasta di Jakarta. biasalah urusan Business to Business. kerja sama antara bisnis perusahaan yang saya tempati dan perusahaan Pak Supervisor ini lumayan lama jadi membuat saya dan beliau saling mengenal. menginjak beberapa bulan Saya di perkenalkan putri bungsunya yang kala itu masih semester 3 kuliah di Universitas Budi Luhur Jakarta.

Awalnya begini, di meja Pak SPV ada album foto lalu saya mengambilnya dan melihat-lihat foto itu lalu mataku terpaku sama satu foto cewek muda duduk didalam mobil (kira-kira usianya masih 19 tahunan), dan spontan Saya bilang…

Pak, ini siapa?. cantik banget.. kenalin donk Pak. dijawabnya : itu anak bungsu saya Jar. beneran kamu mau aku kenalin?. karena tingkah Saya kadang suka slenge’an hehehe ya sudah jawab spontan saja.. hah putri bapak?, Iya boleh Pak siapa tahu jodoh hahaha (sambil tertawa bercanda). lihat tingkah-ku Pak SPV juga ikut ngakak 😀

Dan benarlah esoknya putri bungsu Pak SPV ini dan berkenalan sama Saya. ternyata anaknya ramah dan santun (keturunan Jawa – Manado). jadi itu membuat Saya semakin menghargai dia. disela-sela obrolan kami berdua, eh teman-teman kantor (di perusahaan Pak SPV) berteriak ” udah jar jadiin. bapaknya udah ngijinin loh. jarang-jarang dapet kesempatan kayak gitu “. ini yang membuat Saya semakin bersemangat karena teman-teman disini juga mendukung. dan perkenalan itu tidak lama tidak sampai setengah jam karena dia juga harus berangkat kuliah.

Setelah dia pergi berangkat kuliah.. bapaknya ini (Pak SPV) memberi kartu namanya ke Saya disitu tertulis lengkap nomor handphone dan alamat rumah di pejaten Jakarta Selatan. beliau bilang…

Fajar, besok weekend kamu datang kerumah ya.. kita makan-makan dirumah Saya. singkat cerita, putri bungsunya rencananya benar-benar mau dinikahkan sama Saya. tapi saat itu penyebab kegagalannya adalah karena keputusan Saya sendiri. kenapa?, yang paling utama adalah karena mereka non-muslim, dan yang kedua Saya belum punya rencana sama sekali untuk menikah. dan pada akhirnya, putri bungsunya menikah sama anak buah Pak SPV ini. ya, menantu tak usah mencari jauh-jauh.. pilih dan ambil saja diantara anak buahnya.

Dan masih ada lagi beberapa kisah perjalanan saya tentang hampir mau nikah. terlalu pahit untuk dibahas, jadi cukup satu saja ya 😀

Orang tua tentu ingin mendapatkan yang terbaik untuk anak-anaknya, apalagi soal menantu ya.

Tahun 2012 saya sempat menjalin hubungan tanpa status (backstreet) karena dari pihak Ayah si wanita tak setuju dengan saya. saat itu profesi Saya sebagai Pegawai BUMN. yang membuat tak setuju hanya gara-gara saya bukan anak orang kaya, bukan pengusaha pula. itulah yang terkadang membuat heran sama hidup saya saat ini. dulu di permasalahkan karena bukan pengusaha, sekarang di permasalahkan karena bukan pegawai. mungkin kata teman-teman benar, paling ini soal isi tabungan. hahaha.. memang belom banyak sih tapi kalau di bandingkan sudah 2x lipat (perbulan) diatas pendapatan standard Pegawai BUMN. atau yang menjadi masalah saat ini apa karena saya pasang kriteria tertentu soal jodoh?. tidak juga loh.. tapi herannya kenapa saya selalu merasa cocok sama orang-orang yang saya anggap pantas/cocok.

Get more stuff like this

Subscribe to our mailing list and get interesting stuff and updates to your email inbox.

Thank you for subscribing.

Something went wrong.

Leave a Reply