Allah yang Merencanakan, Kita yang Menentukan!

Kita pasti sudah sering mendengar kalimat ini ” Manusia hanya bisa merencanakan tapi Allah yang menentukan “. Saya katakan itu benar dan tidak ada yang salah sama sekali. lalu bagaimanakah kalau kalimat diatas kita balik menjadi ” Allah yang merencanakan tapi Kita (Manusia) yang menentukan! “.  sabar dulu jangan emosi ya..

Bagi yang malas membaca sudah pasti akan mudah terprovokasi kalau pernyataan ini salah dan menyesatkan. sebelum pembahasan lebih detail, Saya mau bertanya terlebih dahulu pada Anda, mahluk apa yang paling sempurna yang di ciptakan Allah? mahluk apa yang di beri kehendak bebas dalam memilih jalan hidup? jawabannya pasti Manusia bukan?

Banyak diantara kita masih bingung masalah ini. semua di limpahkan pada Rabbnya, termasuk kesalahan-kesalahan, dosa-dosa yang pernah kita perbuat. pada intinya, Allah menginginkan kita jauh dari dosa, Allah menginginkan kita selalu berada dalam kebenaran, Allah menginginkan kita hanya yang baik-baik. tapi banyak diantara kita malah memilih menjauh dari NYA, mau melakukan dosa bahkan berulang-ulang. sudah tahu itu dosa tapi tetap saja kita tidak memperdulikannya. sudah tahu itu dosa tapi kita tetap saja mengulanginya. contohnya apa?

Pacaran itu Baik tapi Berdosa, jika..

Saya mengatakan pacaran itu baik kalau mengikuti syariat islam. istilahnya ” Ta’aruf “. dan pacaran juga bisa menjadikan dosa jika kita tidak bisa mengendalikan hawa nafsu. jaman sekarang mana ada sih pacaran yang nggak ciuman? pegangan tangan saja sudah di hitung maksiat, bertatap muka juga sudah di hitung maksiat. mendekati maksiat (zinah) saja sudah dosa besar, apa lagi sudah melakukannya lebih dari itu? oleh karena itu Islam menganjurkan ta’aruf sebelum menikah. kalau belum mendapat calon jodoh baiknya berpuasa gunanya untuk mengontrol pengaruh hawa nafsu.

Riba itu Haram dan Dosa Besar, tapi Kita menikmatinya..

Kita tentu sudah tidak asing soal ini. dimana jenis dosa besar ini di kemas secara baik dan seolah-olah sudah menjadi suatu kewajaran di era modern ini. contohnya sudah banyak sekali : kredit mobil, motor, rumah, koperasi, bank, asuransi, dsb. inti dari riba ada pada bunga. jenis pinjaman apapun, kredit apapun, kalau di sertai sistem bunga itu masuk kategori riba. kita tahu soal ini tapi kita tidak memperdulikannya. Allah sudah memperingatkan dalam firman Nya kalau ini perbuatan terlarang tapi kita mengabaikannya. kita lebih takut sama penilaian manusia dari pada penilaian Allah. kita lebih takut di pandang miskin di mata manusia lainnya, tapi kita tidak takut sama ancaman azab Allah. padahal Allah sudah mengingatkan azabnya sangatlah pedih.

Kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas

Ada beberapa ulama men-tafsirkan bahwa kerja di bank itu haram hukumnya karena memakan harta riba. ada juga yang mengatakan tabungan di bank itu tidak apa-apa selama niatnya untuk kebaikan. sejenak Saya mikir keras, kok bisa-bisanya mereka begitu mudah menyalahkan pegawai bank, menghalalkan tabungan di bank padahal jelas-jelas uang di bank itu bercampur riba.

Riba itu dosanya puluhan kali lipat lebih besar dari pada dosa berzina. seringan-ringannya dosa riba sama dengan dosa berzina dengan Ibu kandung. di akhirat hukuman seringan-ringannya adalah berenang di sungai darah. (source : hadist)

Kalau konteks nya soal niat (mengamankan uang, kebutuhan mendesak, dsb) lalu apa bedanya sama nasabah meminjam modal uang niatnya juga untuk yang baik-baik? seperti : menyekolahkan anak, membangun atau merenovasi rumah, tambah modal usaha, dsb. lebih lanjut, beberapa ulama juga mengklaim kalau pegawai bank itu memakan harta haram (riba). tapi apakah ulama-ulama itu uangnya masih di simpan di bank? lalu apakah transaksi uangnya tidak memakai jasa bank? kalau mereka masih menggunakan jasa bank, saya katakan MUNAFIK! teriak-teriak haram tapi masih menikmati layanan bank. pada intinya, jaman sekarang kita tidak bisa lepas sama pengaruh kapitalis. kita berada di bawah cengkramannya. hal ini persis seperti sabda Rasulullah, dimana di akhir zaman ini tidak ada yang bisa lolos dari memakan harta riba. seolah-olah menjadi suatu yang wajar (halal). solusinya cuma satu..

Perbanyak istighfar & berdoalah kira-kira seperti ini : Ya Allah berikanlah kami rezeki yang barokah & selamet dunia-akhirat.

Doa diatas menurut saya sudah cukup baik untuk urusan dunia & akhirat. karena sudah mencakup semuanya.

Kembali ke judul ” Allah yang Merencanakan tapi Manusia yang Menentukan “. kalau sudah baca pernyataan diatas Anda pasti paham maksud saya. tapi ada beberapa contoh lain :

  • Allah menginginkan kita agar bisa bangun malam untuk Tahajjud, tapi selama ini kita bagaimana? lihat ayat ini
  • Allah menginginkan kita agar bisa bersedekah ke orang-orang miskin. sejauh ini tindakan kita bagaimana?
  • Allah menginginkan kita agar tidak bergosip / bergunjing pada orang lain. tapi banyak di antara kita masih melakukan hal itu.
  • Allah menginginkan nasib kita berubah, sukses, tapi sejauh manakah ke sungguhan kita untuk mencapainya? sudah se fokus apa kita serius menjalankan bisnis? apa jangan-jangan masih gagal fokus melihat Screenshot mastah sana-sini? 😀 motivasinya bisa lihat di ayat ini
  • Dan masih banyak lagi..

Minum Alkokhol, Katanya sih Biar Gaul

Tidak jarang saya mendapati orang-orang sekitar saya sering mabuk minuman keras beralkohol. entah alasannya biar terkesan gaul, menghilangkan stres, dsb. padahal mabuk juga bagian dari dosa besar. hal ini bukan hanya di agama islam. dalam ajaran kristen, yahudi, budha, hindu, juga melarang mabuk-mabukan. ada di kitab taurat, alkitab (injil), wedha, bhagavad gita, dan tripitaka. untuk penjelasan ayatnya silahkan cari di google. karena kalau saya bahas disini jadinya terlalu panjang.

Pada intinya, yang baik-baik itu datangnya dari Rabb dan masalah-masalah yang kita hadapi itu nggak jauh dari perbuatan dosa kita sendiri. ada juga bentuk masalah sebagai ujian tapi ini tidak berlangsung lama. kalau kita terus-terusan di timpa masalah, berarti ada yang salah dalam diri kita. baiknya koreksi dan segera perbaiki diri.

Kehidupan manusia itu bergantung dengan perbuatannya, hal ini pernah saya baca di Al-Quran tapi lupa surat apa dan ayat berapa. jadi disini sudah sangat jelas, kalau kita berbuat baik sebenarnya kebaikan itu untuk diri kita sendiri. sebaliknya, ya harus siap menanggung akibatnya.

Catatan ini tidak bermaksud menggurui siapapun, sebenarnya ini gejolak dalam diri saya sejak beberapa tahun terakhir. sudah cukup lama saya menyadari hal ini dan tidak ada rencana di tulis dan di publikasi disini. tapi saya mencoba berpikir ulang mungkin ini ada baiknya di tulis dan di publish ke layak umum. syukur-syukur bisa menjadi bahan pembelajaran & hikmah untuk kita semua. selamat berakhir pekan gaes 😀

Assalamu’alaikum wr wb

Get more stuff like this

Subscribe to our mailing list and get interesting stuff and updates to your email inbox.

Thank you for subscribing.

Something went wrong.

Discussion

  1. Frank

Leave a Reply